Hari ini aku menuliskan secuil cerita, tentang sebuah akhir dari perjuanganku mengejar gelar S.Kom pada tulisan sebelumnya. Aku kemudian terinspirasi untuk menuliskan cerita awal, sebuah awal dari keseluruhan cerita. cerita ini mungkin sedikit panjang, mudah-mudahan tidak membosankan.
SD Inpres. sekolah ini satu-satunya dikampungku. bukan hanya satu-satu nya tapi 1 sekolah untuk digunakan bersama dengan 2 kampung yang lain, mungkin ini alasannya, sekalipun sekolah ini berada kampungku, Kuta Pengkih, lokasinya jauh dari pemukiman warga, berjarak 5 km dari kampungku, agar 2 kampung lain, Cerumbu dan Barisan tidak terlalu jauh mengakses sekolah ini.
Sekolah SD ku, salah satu section dalam pencarian siapa aku. Bangunannya sangat jauh dari bangunan SD dijakarta. lantainya adalah semen yang sudah rusak, debu semen layaknya seperti lantai kami sendiri, lantai ini tak akan pernah bersih disapu. atapnya terbuat dari seng, sebagian sisi plafonya sudah tidak ada, sebagian yang lain hendak bercerai dengan atapnya. satu lagi, sebuah kamar mandi ada diantara ruang kelas 3 dan kelas 4, tapi aku agaknya yakin, kamar mandi ini tampaknya tak pernah digunakan sejak awal dibentuknya, abstrak, lalu kemana aku, teman-temanku ketika alam memanggil?? aku yakin kalian tak akan mau tahu soal itu :D
Disini pertama kalinya aku secara resmi diajarkan huruf, angka, membaca, menulis, berhitung dan tak ada bahasa ingris. Di sekolah ini juga aku berfikir bahwa sekolah itu pasti lah sadis. Di kelas 3 SD aku sudah merasakan sebuah penggaris kayu patah dikaki, guru SD ku yang terkenal killer melayangkanya padaku karena aku tak bisa mengerjakan soal dipapan tulis. oke hidup ini keras! tak terfikir olehku.
Dikelas 4, beberapa lidi menempel di tanganku, sapu lidi dilayangkan oleh guruku di Kelas 4 ke arah kepalaku, tapi aku menghalaunya dengan tanganku. aku bukan lah siswa yang nakal, teman-temanku hampis semuanya mendapatkan pengalaman yang sama, aku, teman-temanku mengadu, dari orang tua ke kepala desa, tapi tak berhasil. Kepala desa saat itu mungkin sangat bijak, lebih memilih mencerdaskan aku dan teman-temanku sekalipun berdarah.sekali lagi, pada usia belia itu, tak terfikir oleh ku. hidup itu keras.
Semua berubah, dikelas 5 dan 6. Kelas 5 diajar oleh seorang ibu guru yang baik dan lemah lembut, dan kelas 6 diajar langsung oleh kepala sekolah, seorang muslim taat yang hidup ditengah tengah warga kristen, yang dikampung ini sama sekali tidak ada masjid. kelas 6 juga lah, aku mengenal bahasa ingris. bukan sebagai mata pelajaran, tapi sebagai pelajaran tambahan sepulang sekolah yang diajarkan oleh kepala sekolah.
Umurku pada saat itu genap 12 tahun, saat aku menyelesaikan Sekolah Dasar. sepulang dari mengambil ijazah di sekolah, aku bergegas ke Kuta Kendit, dalam bahasa karo, 'kendit' berarti menanjak. ya kampung ini, sepanjang jalan menanjak. aku juga sering menyebut kampung ini sebagai kampung terakhir. dalam duniaku yang kecil pada saat itu, Kuta Kendit adalah kampung terakhir yang bisa dituju, setelahnya hanya hutan, dan hutan. Hari itu, bapakku bekerja di ladang kami yang ada di kampung tersebut, sangat jauh, aku harus berjalan kaki sekitar 3 jam, melewati ladang-ladang penduduk Kuta Pengkih, menyusuri jalan berbatu yang berada ditengah hutan, sendiri tapi ramai dengan Bengkala 'Monyet' yang sahut-sahutan dihutan, melewati air terjun Lau Mbelin yang jatuh tepat didalam sebuah kolam besar yang terbuat dari batu, ini alami, orang-orang sering berendam di kolam ini melepas lelah menelusuri jalan yang menanjak. Tak jauh dari air terjun ini, air yang juga menjadi sumber air utama bagi Kuta Pengkih dan Kuta Kendit, aku sudah akan tiba di ladang bapakku.
Aku tiba di ladang bapak, aku liat bapak sedang duduk dibangku khusus untuk mengiris tembakau, dia sedang mengiris tembakau, ketika aku menghampiri, mengatakan aku sudah lulus SD dan NEM termasuk yang terbaik di sekolah, bapakku acuh tak acuh. Tampaknya, lembaran-lembaran tembakau yang harus dia iris dan keringkan itu lebih menarik dari pada mendengar celotehku, bapakku bahkan tak beranjak dari kursinya tak juga melepaskan pisau pengirisnya. Bapak hanya menyuruhku pulang. 'Bapak akan pulang kerumah malam ini'
Dan Aku pulang
......