Senin, 07 Januari 2013

Kuta Bangun

Aku memutuskan menuliskan cerita tentang sebuah desa di pelosok indonesia, tapi tidak lebih pelosok dari kampungku, Kuta Pengkih. Hari ini, hidup membawaku duduk sendiri disini, membawakanku bingkai bingkai lama, tentang aku keluargaku, bahkan ratusan keluarga di Kuta Pengkih. Kuta Bangun memiliki bagian penting dari kehidupanku.

Duduk menyeruput  teh manisku, dan pop mie rasa soto menambah  melankoli malam ini dan mengusir dinginya malam.

Bingkai pertama adalah aku. Ya pasti aku, aku yang dulu bocah ingusan yang selalu berserta ayah dan ibuku ketika menunggu mobil hartop yang akan membawa kami ke kuta pengkih, disini, sebuah rumah makan, yang aku, orang tuaku, kakak, abang, warga kuta pengkih, sebut Gudang Sitepu. Ya rumah makan ini juga ada lah gudang tempat penjualan jagung,jeruk, dan hasil hasil tanam lainya.

Karena itu lah, Kuta bangun menjadi bagian penting kampungku, dari dulu desa ini sebagai tempat pertama jual beli hasil tani kampungku.

Memori kedua adalah... sebuah kesialan dan juga keberuntungan yang terjadi diwaktu yang tepat. Ya suatu hari  aku masih dikelas 4 SD, untuk pertama kalinya aku pergi dari kampung sendirian. Hari itu aku sangat terobsesi untuk menonton atraksi gajah di Tiga Binanga. Aku pakai baju baru, dan celana baru yang ku gunakan pada waktu natalan beberapa hari sebelumnya. Celana nya seperti celana yang ngetrend seperti sekarang ini, chinos, bedanya kedua kantong sampingnya tidak dalam seperti chinos.

Aku nemempatkan satu satu nya lembaran 20000 ku disalah satu kantong samping chinos ku. IM EXCITED, kata kata yang pas untuk hari itu, hingga sadar, uang 20000 sudah tidak dikantong. Aku lemas, tiba di Kuta Bangun.

Aku ditimpa kesialan yang menggalaukan. Diusiaku, aku tak mengenal tokoh jahat, tapi ditempat ini aku juga tak kenal yang mana tokoh baik.

Keberuntungan ku adalah, ketika aku berjalan mendekati rumah makan, ahhh aku kenal dia aku kenal dia, mami dan mamaku. Ya kalo dijakarta ini tante dan pamanku, saudara tertua dari ibuku. Mereka menginap di kedai ini semalan karena tidak ada hartop ke kampung malam sebelumnya.
Aku akhirnya berhasil melihat atraksi gajah main bola, basket, meniup harmonika, dan AKU NAIK GAJAH. Luar biasa. Aku menikmati hari itu.

Kenapa aku harus duduk sendiri malam ini di kuta bangun. Ya karena desa ini desa yang bisa diakses angkutan umum. Setelah desa ini akan ada pertigaan, semua angkutan umum akan belok ke kiri, kearah kuta cane, Aceh Tenggara. Kekanan, tak banyak yang tahu kalo masih ada kampung jika belok ke kanan, karena jalanan yang kontras, aspal yang mulus dan jalan batu berlumpur. Semua orang menanggap itu hanya jalan menuju perkebunan seseorang.  Ya kampungku masih berkilo kilo meter dari belok kanan itu, jalan berbatu nan licin, gelap dan menanjak kearah kaki pegunungan bukit barisan. Malam ini aku pulang kampung.

Teh ku habis. Pop mie habis. Malam makin dingin, aku pun berfikir untuk memesan another cup of tea haha. Tapi tidak. Aku berenca memutar lagu favoritku sepanjang masa. Buble - Home.