mengawali cerita ini http://jesuisunrveur.blogspot.com/2012/09/sebuah-awal-tamat-sd.html, rasanya cerita di tulisan tersebut sudah terlalu panjang, sehingga aku melanjutkanya dengan tulisan ini.
setelah pertemuanku dengan bapak di ladangnya di Kuta Kendit, malam harinya bapak pulang kerumah, bapak sudah beberapa hari tidak pulang untuk mengurus tembakaunya. Malam ini bapak pulang, agaknya dia bukanlah acuh tak acuh. aku sama sekali tak tahu apa yang bapak fikirkan setelah aku meninggalkannya di ladang, tapi aku akan tahu malam ini.
Benar saja, malam ini bapak pulang kerumah, membicarakan masa depanku dengan mamak, denganku. bapak memintaku tidak usah melanjutkan sekolah, karena tidak ada biaya, sebidang tanah di Kuta Kendit sudah disepakati harga nya, 5 hektar seharga 10 juta dengan bang Leo, dan itu untuk bayar hutang pendidikan abangku, Andreas yang cukup mahal, sekolah di Asisi Medan. 'dari sepuluh juta itu masih akan ada sisa, bapak bisa belikan kamu kambing, kerbau untuk diasuh' itu yang bapak katakan, dan aku, aku hanya menangis, menangis, 2 hari berikutnya aku terus menangis, dan hari hari berikutnya adalah hari hari yang sama sekali tak menggairahkan, masa depanku direnggut, habis, dan dipatenkan.
seminggu, dua minggu, sebulan, tampaknya aku sudah terbiasa, aku tak kan mengenyam pendidikan tingkat menengah, teman-teman ku, seangkatanku hilang, merantau ke medan, batam, belawan, kabanjahe melanjutkan sekolah, dan aku memulai rutinitas yang dilakukan bapak - ibuku lakukan, abang-kakakku yang tak menyelesaikan sekolahnya lakukan mungkin juga nenek-moyang ku lakukan, pergi keladang.
aku menjadi seorang petani, seperti bapak, kakekku, nenek moyangku.
"bumi terus berputar bersamaku... berputar menahanku tetap berpijak di lantainya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar