Minggu, 30 September 2012

H - X. Seminggu Mencari Cinta

Mamak akan datang berkunjung ke jakarta. Kali kedua setelah 10 tahun aku dijakarta. Pertama kali mamak ∂άn bapak menjengukku ketika aku memasuki kelas 2 SMP.

Banyak hal yang harus bisa kujelaskan kepada mamak, tentang kuliahku, pekerjaanku, keuanganku. Tapi dari sederet hal yang pasti akan ditanyakan itu, ada suatu hal yang sampai aku menuliskan tulisan ini, jawbanya masih abstrak.

Umurku sudah 22 tahun, ∂άn aku belum juga punya pacar. Inilah pertanyaan yang paling rumit untuk diuraikan, aku terlalu cupu untuk memulai sebuah hubungan. Aku terlalu angkuh untuk membuka hati.

Minggu depan, 7 Oktober, mamak datang δεηgαη bang leo. ∂άn aku tahu, hal ini pasti ditanyakan, agaknya aku harus bisa menemukan seseorang dalan 1 minggu, atau, jujur saja, bukan aku tak laku...

Disemester 5, Seorang rekan mahasiswi kedokteran terus terus menelfonku, message fb, sms. Tapi agresivitas itu membuatku ngeri, terakhir kali, ketika aku sedang di Pare, Kediri dia menelfon lagi ∂άn aku menyuruh teman asramaku untuk menerima telefon. Ya semenjak itu dia tak lagi 'menerorku'. Aku lega, dan tega.

Ketika aku di Pare juga, seorang temanku, perempuan perantauan dari palembang. tiap hari memintaku menjadi parnernya, untuk latihan menembak. Dia ingin menembak seorang lakilaki yang dia tak pernah jelaskan siapa. ∂άn aku selalu mengahiri latihan δεηgαη mengatakan tidak alias menolaknya.

Setelah masa kursus berakhir selesai, aku ∂άn 3 orang teman dekatku merenacanakan pulang δεηgαη kereta api ekonomi gaya baru malam selatan. Dia memaksa ikut dengan rombongan kami.

Diperjalanan, semua biasa saja, kuanggap dia teman biasa, aku sama sekali tak canggung bercanda, ketawa, hingga satu sms masuk ke hpku dari teman kursusku, teman dekatnya yang masih di Pare, laki-laki yang ingin dia tembak adalah aku. Aku pun diam, speechless. Tak lagi ada canda tawa. Kikuk. Merasa bersalah.

Tiba di Stasiun senen, dia dijemput sepupunya, dan kami berpisah hanya δεηgαη salamualikum.

Di akhir semester 7 aku diterima sebuah perusahaan swasta sebagai junior software engineer. Aku berkenalan dengan dengan sesama software engineer, bedanya pegawai magang dari salah satu SMK TI di Malang.

Setiap hari dia like statusku, sekaligus sebuah pesan lewat sms, kadang chat, kadang pesan langsung untuk like balik. Sesekali aku like statusnya. Tapi lebih sering di membajak fb ku hanya untuk like statusnya. Temannya bercerita bahwa dia menyukaiku.

Sesungguhnya aku pun suka. Dia memiliki senyum yang manis, cerdas. Tapi alai. Itulah yang membuatku menahan diri.

Dihari terakhirnya bekerja magang dikantorku, dia menemaniku мαкαη malam dikantin kantor, memintaku untuk berfoto berdua. ∂άn dia menangis. Aku gugup, speechless. Tal ada lagi pembicaraan, 'tunggu aku disini ya, selesai sekolah aku kerja disini lagi'. Itulah kata penutupnya. Kamipun pulang naik busway. Malam itu jalanan padat merayap, cukup untulku ∂άn dia untuk berbicara banyak, tapi aku diam, dia juga diam.

Dari keangkuhan itu, sekarang aku kebingungan, bagaimana caranya menemukan seseorang dalam 1 minggu.

Orang Tua Kedua

Di awal-awal aku memeluk islam, aku banyak berkenalan dengan mualaf lain dengan berbagai bentuk pengalaman spiritual mereka hingga sampai memeluk islam.

Aku juga berkenalan δεηgαη seorang ustad, orang-orang akhirnya memanggilnya ustad, karena dedikasinya yang tinggi dalam belajar dan mengajarkan islam. Background pendidikannya sendiri adalah bidang hukum. Aku memanggilnya Abi Yuman, yang pasti dia bukan orang bali.

Aku rajin ikut Abi Yuman, setiap sabtu ∂άn minggu, pengajian didaerah serpong. Disamping pengajian δεηgαη Abi Yuman, aku juga ikut pengajian yang diadakan oleh bapak-bapak dikomplekku.

Tamat SMP, Abi Yuman mengajakku untuk tinggal bersama keluarganya di daerah ciputat, tak telalu jauh dari rumah abangku. Hal ini juga untuk mengatasi batasan yang diberikan abangku, aku dilarang mengaji. Alasanya satu, terorisme, karena saat itu setiap hari Ba'asyir menjadi "news maker". Aku menerima tawaran itu, ∂άn semenjak SMA, aku tinggal bersama keluarga angkatku, Abi, Umi, ∂άn 2 adik perempuanku.

Sabtu, 29 September 2012

Jessica

Namanya Jessica. Siswi pindahan disekolahku, waskito 4. Perlenalanku dengannya membawa kealaian yang berkepanjangan.

Diawal perteman kami dia mengajariku beberapa hal. Disela sela istirahat, dia mengajariku cara "berjalan" yang baik dan benar. Menurutnya, caraku berjalan kurang "laki", alhasil diawal kebersamaan ku, aku dan jessica sering berada di lorong depan kelas untuk latihan "berjalan".
Hari hari berikutnya, kelas menjadi penuh persaingan antara aku, galih, rosi, mustika ∂άn kompetitor baru, jessica.

Jessica juga lah wanita pertama yang menjadikanku mengenal rasa abstrak yang disebut cinta, cinta monyet. Setiap hari aku sudah menyiapkan secaril kertas, di mejanya di selipkan di bukunya. Puisi, aku menjadi pujangga, Nasip kertas kertas itu berakhir ditempat yang sama, tempat sampah didepan kelas.

Alai memang. Cinta, cinta monye sekalipun mampu membuat seseorang menjadi alai.

Aku memang tak pernah meminta jessica untuk menjadi pacar, ya waktu itu aku sama sekali tak mengerti. Aku hanya terus mencintai.

Jessica juga lah yang paling menentang ku ketika dia tahu aku sudah menjadi moslem, aku ingat hari hari setelah aku resmi menjadi muslim, jc setiap hari membawa alkitab seukuran saku, membacanya ketika istirahat, ketika guru tidak ada. Dia jelas mecari sesuatu.

Aku ∂άn Jesica akhirnya bertemu terakhir kali di cibodas. Waktu itu perpisahan sekolah. Kami terus berjalan bersama, ∂άn semenjak itu aku dilanda kerinduan yang berkepanjangan. Sampai hari ini Jessica masih spesial.

Awal Mengenal Islam, SMP Waskito 4 Pamulang II.

Dijakarta, aku didaftarkan di SMP waskito 4, didaerah Pamulang II, yang sekarang masuk wilayah Tangerang Selatan.

Gedung sekolah ini cukup besar, karena disini ada SD, SMP, SMEA. Aku tak bisa daftar disekolah negeri, karena kedatanganku ke Jakarta sudah terlabat. Hampir semua sekolah sudah menutup penerimaan siswa baru. Di waskito pun aku mendaftar di hari ke 2 masa orientasi siswa, sehingga aku hanya ikut MoS dihari ketiga, hari terakhir.

Sekolah ini, tak punya identitas yang resmi,webagai sekolah islam, atau sebagai sekolah kristen. Ada guru agama islam, juga ada guru agama kristen. Mushala yang digunakan teman muslimku adalah ruang olahraga indor yang memang tidak setiap hari digunakan.

Kondisinya sangat berbeda hari ini. Siswa di Waskito didominasi oleh siswa kriten ∂άn chiness. Jika berkunjung ke sekolahku ini sekarang, dia lebih identik δεηgαη sekolah kristen.

Ketika tiba mata pelajaran agama, aku ∂άn teman teman kristenku keluar kelas dan mengikuti pelajaran agama di kelas yang khusus untuk pendidikan agama kristen. Ya, di kelas ini aku bersama beberapa teman kristen yang saat itu minoritas sangat menikmati kebersamaan kami. Aku ∂άn teman temanku sering janjian dihari minggu untuk pergi ke gereja yang satu ∂άn yang lainya.

Dikelas 2 SMP, guru pengajar pendidikan kristen sering tidak menghadiri kelas. Teman temanku yang kristen akan berceloteh di kantin selama pendidikan agama kristen. Lalu dimana aku?
Setiap kali guru kristen tidak masuk, aku berada di kelas agama islam.

Aku belajar Islam. Kenapa aku memilih tetap berada di kelas dan belajam Islam, akupun tak tahu.  Dari mengikuti kelas yang tak rutin ini aku mengenal sifat sifat wajib Allah, sifat sifat yang mustahil bagi, konsep taubat, konsep ikhlas, hukum hukum dalam islam. Sampai saat itu, islam berada dalam sebuah ruang memori logic ku. Oke hanya sampai disitu.

Semenjak perkenalanku itu juga, aku menyadari sesuatu yang selalu membangunkanku di subuh hari yaitu adzan subuh. Padahal disekitar kompleku jarak    masjid terdekat menempuh lebih dari 30 menit berjalan kaki. Subuh aku ßαήĞυή, buka buku, belajar.

Semenjak kelas 3, aku mulai jauh dari kegiatan hari minggu, aku tak lagi kegereja. Sesekali aku kembali gereja, tapi tak lagi menarik. Aku selalu tertidur ketika misa berlangsung. Puncaknya adalah 25 desember 2005. Aku tidak lagi menghadiri misa natal. Beberapa minggu kemudian aku akhirnya mengatakan kepada teman muslimku di sekolah, yang juga tetanggaku dirumah, seorang blasteran belanda-jawa, aku ingin mengenal islam lebih jauh.

Akupun dikenalkan oleh seorang ustad yang rutin berkunjung memberikan pengajian kepada bapak bapak di kompleks kami. Minggu berikutnya akupun resmi menjadi seorang muslim.  Sampai dititik itu, belum ada alasan logis seperti mualaf lain yang biasanya berargument kenapa mereka memilih islam. Aku sepenuhnya seperti terhipnotis ∂άn ditarik untuk menjadi muslim oleh sebuah kekuatan yang tak mengerti.

Allah lah yang menariku, mengenalkanku. Hari ini, menjadi muslim adalah hal yang paling berani ∂άn sampai hari ini keputusanku itu adalah yang paling logis dalam hidupku. Islam dibangun dari logic, tidak seperti agama lain yang dibangun dari doktrin, ini sangat memikatku setelah aku memeluk islam. Ya aku terpikat sesungguhnya setelah aku masuk islam itu sendiri.

Alhamdulillah, i am a moslem.

Jakarta, ∂άn Pizza

Pizza adalah makanan pertama yang dihidangkan kakak ∂άn abang sepupuku dari bang Leo. Setiba nya aku dijakarta tidak langsung kerumah bang Leo tapi singgah di salah satu tempat usahanya di daerah Fatmawati yang bersebelahan δεηgαη Pizza Hut, alhasil, pizza adalah makanan pertama yang kucicipi dijakarta.
Pengalaman pertama ini bukan lah sesuatu yang mengenakkan, betapa pun hari ini aku suka Pizza, pada hari itu, segigit pizza tepat diujung lancip segitiganya cukup membuatku muntah muntah. Pizza makanan paling aneh, pikirku.

Ya hari itu aku muntah, mungkin aku yang lahir dikampung ∂άn untuk pertama kali nya menginjakkan kaki dijakarta, juga pertama kalinya mendengar ada makanan bernama Pizza, perutku mungkin shock sekaget kagetnya, ∂άn menganggap Pizza, yang datang berkunjung hari itu dianggap tamu yang tidak diundang bahkan mungkin penjahat berdarah dingin, sehingga perutku melakukan akselerasi gaya dorong, mengeluarkan Pizza itu dari perutku seketika. Ini lebay... :D

The Departure : Kuta Pengkih, Terminal Medan, Terimal Kali Deres

Bang Leo, saudara jauh kami yang kaya raya, pundi pundi uangnya berasal dari ladang sawit yang luas di Pekan Baru, beberapa studio photo dijakarta dan solo. Dia akhirnya datang berkunjung ke kampung ku Kuta Pengkih. Ini adalah kali pertamanya berkungjung kesini, sebagai sebuah silaturahmi untuk mengeratkan kembali pertalian saudara yang sudah sangat jauh, sekaligus untuk melihat tanah yang sudah disepakati dengan bapak. Setelah berbincang bincang semalam suntuk, mulai dari silsilah keluarga, dari Laki (kakek) dan Biring(nenek) hingga kakek neneknya mereka, sehingga disimpulkanlah bahwa Bang Leo adalah abangku, dan bapakku adalah bapaknya. Begitulah adat karo, tak mengenal saudara sepupu, ponakan, semua harus diurut berdasarkan silsilah dan marga dan diambil simpulnya.

selain masalah silsilah, aku pun menjadi bahan perbincangan malam itu, kenapa aku tidak meneruskan sekolah, kenapa aku menjadi petani. Pada masa itu aku mungkin tak tahu harus menjawab apa, karena saat itu, aku setuju bahwa aku bukan memilih tapi aku tak punya pilihan.

Bang Leo kemudian menawarkan aku agar ikut bersamanya dijakarta, Melanjutkan Sekolah! Dunia menjadi bergairah lagi. Tentu saja aku sama sekali tak menolak tawaran itu. sekalipun aku sama sekali tak tahu seperti apa jakarta. keesokannya Bang Leo pulang ke Medan, dan memintaku untuk datang ke Medan, ke Jakarta.

Seminggu kemudian, bapak, ibu mengantarku kemedan, kerumah Bang Leo. Tapi bang Leo sudah kejakarta, dia menungguku di Jakarta. Tiket bus Medan jaya pun diambil dihari kedatangan kami untuk keberangkatan esok harinya, ke Jakarta. berangkat dari terminal Medan, sampai termial Kali Deres menggunakan transportasi darat memakan waktu 3 hari dua malam. melelahkan, tapi aku jauh lebih tertarik mengenal jakarta, dari pada mengeluhkan kelelahanku.

Sebuah Awal, Tamat SD: The Confusion,

mengawali cerita ini http://jesuisunrveur.blogspot.com/2012/09/sebuah-awal-tamat-sd.html, rasanya cerita di tulisan tersebut sudah terlalu panjang, sehingga aku melanjutkanya dengan tulisan ini.

setelah pertemuanku dengan bapak di ladangnya di Kuta Kendit, malam harinya bapak pulang kerumah, bapak sudah beberapa hari tidak pulang untuk mengurus tembakaunya. Malam ini bapak pulang, agaknya dia bukanlah acuh tak acuh. aku sama sekali tak tahu apa yang bapak fikirkan setelah aku meninggalkannya di ladang, tapi aku akan tahu malam ini.

Benar saja, malam ini bapak pulang kerumah, membicarakan masa depanku dengan mamak, denganku. bapak memintaku tidak usah melanjutkan sekolah, karena tidak ada biaya, sebidang tanah di Kuta Kendit sudah disepakati harga nya, 5 hektar seharga 10 juta dengan bang Leo, dan itu untuk bayar hutang pendidikan abangku, Andreas yang cukup mahal, sekolah di Asisi Medan. 'dari sepuluh juta itu masih akan ada sisa, bapak bisa belikan kamu kambing, kerbau untuk diasuh' itu yang bapak katakan, dan aku, aku hanya menangis, menangis, 2 hari berikutnya aku terus menangis, dan hari hari berikutnya adalah hari hari yang sama sekali tak menggairahkan, masa depanku direnggut, habis, dan dipatenkan.

seminggu, dua minggu, sebulan, tampaknya aku sudah terbiasa, aku tak kan mengenyam pendidikan tingkat menengah, teman-teman ku, seangkatanku hilang, merantau ke medan, batam, belawan, kabanjahe melanjutkan sekolah, dan aku memulai rutinitas yang dilakukan bapak - ibuku lakukan, abang-kakakku yang tak menyelesaikan sekolahnya lakukan mungkin juga nenek-moyang ku lakukan, pergi keladang.

aku menjadi seorang petani, seperti bapak, kakekku, nenek moyangku.

"bumi terus berputar  bersamaku... berputar menahanku tetap berpijak di lantainya"

Sebuah Awal, Tamat SD

Hari ini aku menuliskan secuil cerita, tentang sebuah akhir dari perjuanganku mengejar gelar S.Kom pada tulisan sebelumnya. Aku kemudian terinspirasi untuk menuliskan cerita awal, sebuah awal dari keseluruhan cerita. cerita ini mungkin sedikit panjang, mudah-mudahan tidak membosankan.

SD Inpres. sekolah ini satu-satunya dikampungku. bukan hanya satu-satu nya tapi 1 sekolah untuk digunakan bersama dengan 2 kampung yang lain, mungkin ini alasannya, sekalipun sekolah ini berada kampungku, Kuta Pengkih, lokasinya jauh dari pemukiman warga, berjarak 5 km dari kampungku, agar 2 kampung lain, Cerumbu dan Barisan tidak terlalu jauh mengakses sekolah ini.

Sekolah SD ku, salah satu section dalam pencarian siapa aku. Bangunannya sangat jauh dari bangunan SD dijakarta. lantainya adalah semen yang sudah rusak, debu semen layaknya seperti lantai kami sendiri, lantai ini tak akan pernah bersih disapu. atapnya terbuat dari seng, sebagian sisi plafonya sudah tidak ada, sebagian yang lain hendak bercerai dengan atapnya. satu lagi, sebuah kamar mandi ada diantara ruang kelas 3 dan kelas 4, tapi aku agaknya yakin, kamar mandi ini tampaknya tak pernah digunakan sejak awal dibentuknya, abstrak, lalu kemana aku, teman-temanku ketika alam memanggil?? aku yakin kalian tak akan mau tahu soal itu :D

Disini pertama kalinya aku secara resmi diajarkan huruf, angka, membaca, menulis, berhitung dan tak ada bahasa ingris. Di sekolah ini juga aku berfikir bahwa sekolah itu pasti lah sadis. Di kelas 3 SD aku sudah merasakan sebuah penggaris kayu patah dikaki, guru SD ku yang terkenal killer melayangkanya padaku karena aku tak bisa mengerjakan soal dipapan tulis. oke hidup ini keras! tak terfikir olehku.

Dikelas 4, beberapa lidi menempel di tanganku, sapu lidi dilayangkan oleh guruku di Kelas 4 ke arah kepalaku, tapi aku menghalaunya dengan tanganku. aku bukan lah siswa yang nakal, teman-temanku hampis semuanya mendapatkan pengalaman yang sama, aku, teman-temanku mengadu, dari orang tua ke kepala desa, tapi tak berhasil. Kepala desa saat itu mungkin sangat bijak, lebih memilih mencerdaskan aku dan teman-temanku sekalipun berdarah.sekali lagi, pada usia belia itu, tak terfikir oleh ku. hidup itu keras.

Semua berubah, dikelas 5 dan 6. Kelas 5 diajar oleh seorang ibu guru yang baik dan lemah lembut, dan kelas 6 diajar langsung oleh kepala sekolah, seorang muslim taat yang hidup ditengah tengah warga kristen, yang dikampung ini sama sekali tidak ada masjid. kelas 6 juga lah, aku mengenal bahasa ingris. bukan sebagai mata pelajaran, tapi sebagai pelajaran tambahan sepulang sekolah yang diajarkan oleh kepala sekolah.

Umurku pada saat itu genap 12 tahun, saat aku menyelesaikan Sekolah Dasar. sepulang dari mengambil ijazah di sekolah, aku bergegas ke Kuta Kendit, dalam bahasa karo, 'kendit' berarti menanjak. ya kampung ini, sepanjang jalan menanjak. aku juga sering menyebut kampung ini sebagai kampung terakhir. dalam duniaku yang kecil pada saat itu, Kuta Kendit adalah kampung terakhir yang bisa dituju, setelahnya hanya hutan, dan hutan. Hari itu, bapakku bekerja di ladang kami yang ada di kampung tersebut, sangat jauh, aku harus berjalan kaki sekitar 3 jam, melewati ladang-ladang penduduk Kuta Pengkih, menyusuri jalan berbatu yang berada ditengah hutan, sendiri tapi ramai dengan Bengkala 'Monyet' yang sahut-sahutan dihutan, melewati air terjun Lau Mbelin yang jatuh tepat didalam sebuah kolam besar yang terbuat dari batu, ini alami, orang-orang sering berendam di kolam ini melepas lelah menelusuri jalan yang menanjak. Tak jauh dari air terjun ini, air yang juga menjadi sumber air utama bagi Kuta Pengkih dan Kuta Kendit, aku sudah akan tiba di ladang bapakku.


Aku tiba di ladang bapak, aku liat bapak sedang duduk dibangku khusus untuk mengiris tembakau, dia sedang mengiris tembakau, ketika aku menghampiri, mengatakan aku sudah lulus SD dan NEM termasuk yang terbaik di sekolah, bapakku acuh tak acuh. Tampaknya, lembaran-lembaran tembakau yang harus dia iris dan keringkan itu lebih menarik dari pada mendengar celotehku, bapakku bahkan tak beranjak dari kursinya tak juga melepaskan pisau pengirisnya. Bapak hanya menyuruhku pulang. 'Bapak akan pulang kerumah malam ini'

Dan Aku pulang
......

Sebuah Akhir Adalah Juga Awal, Tentang Sidang Skripsi

Sidang skripsi, diawal kuliah, sidang skripsi adalah sesuatu yang sangat aku nantikan, aku berharap untuk disegerakan, lain cerita di hari hari menjelang sidang skripsi. Berfikir tentang sidang itu saja aku nervous, gugup, berharap diskip saja.

14 agustus 2012, jam 8an pagi aku sudah berangkat ke kampus, mengenakan celana bahan, kemeja putih dan pantopel pinjeman Dona, temen kosku. terlalu pagi, ya teralalu pagi, sidang pertama baru akan digelar jam 9, dan aku berada diurutan terakhir, urutan kelima.

mendapat giliran terakhir ternyata sangat amat tidak menyenangkan, khususnya urusan sidang. setiap kali temanku keluar dari ruang sidang, mereka memiliki ekspresi yang berbeda, tapi didominasi oleh senyuman. senyuman kebebasan mereka mengakhiri 4 tahun ikatan akademik, ada juga yang shock dan menangis karena dibantai. Tapi bukan ekspresi pertama ini yang tidak mengenakkan.

setelah seorang teman seperjuangan keluar dari ruang meja hijau, tersenyum atau mungkin menangis, dia akan segera bergabung di ruang tunggu, walau saat itu kami tidak berkumpul di ruang tunggu, tapi di taman Fakultas Ilmu Komputer. segera mencari tempat duduk, dan mulai bercerita a sampai z soal sidang mereka. impressive dan menegangkan.

Ya dan Aku, Aku sebagai yang terakhir maju sidang, harus menelan dan menelan setiap cerita-cerita horor mereka. ini sedikit lebay, tapi yang mereka ceritakan kebanyakan horor, horor dengan kata-kata 'dibantai'.

Jam 4.45 namaku Herman Ginting, akhirnya dipanggil maju ke ruang meja hijau. Yes Finally its my turn! langkahku maju ke meja hijau terasa ringan, tanpa beban, blank. Panggilan staff sekretariat FIK itu tampaknya berhasil menghilangkan nervous ku sekaligus menghapus konektivitas antar neuron melalu dendrit di otakku, aku kosong. tapi power point layaknya clue yang menuntun setaip signal dalam otakku untuk menemukan arah neuron berikutnya. Sidang lancar, lancar jaya, tak kutemukan satu pun dari cerita cerita horor dan pembantaian itu di meja hijau. sidang selesai tepat ketika azdan magrib berkumandang. Alhamdulillah, saatnya berbuka, pikirku.

Ada beberapa kemungkinan kenapa aku tak menemukan hal-hal horor itu, kemungkinan terbesar adalah pengujiku, bu Yuni dan Pak Indra mungkin, tak lagi berada di ruang meja hijau pada saat itu, mereka, fikiran mereka mungkin sudah berada di tepi jalan di depan dan atau belakang kampus yang ramai menjajakan jajanan berbuka puasa, hari itu adalah bulan puasa. kemungkinan lain, karena Allah mungkin memudahkanku, karena aku sudah cukup diuji dengan cerita teman temanku. atau mungkin ini bonus karena aku paling lama menunggu, mungkin juga sidang meja hijau lain menungguku yang lebih besar tentunya, sidang Master of Science in Information Technologi for Business Intelligence kah di ULB, Brussels. Apapun itu aku bersyukur bahwa aku akhirnya berhasil, sampai diakhir dengan tepat waktu.

Ya Aku lulus. sebuah akhir. layaknya sebuah SOP dalam memproduksi mimpi menjadi nyata, hari ini, sidang skripsi adalah sebuah akhir salah satu section dari produksi tersebut. sebuah akhir dan juga awal dari section yang lain, sebuah proses kehidupan yang akan mengantarkanku, mungkin juga jalanku menjemput mimpi mimpi itu.

LETS DREAM