Minggu, 08 Juni 2014

Menemui Dewi Anjani : Departure

Perjalanan ku tak pernah lebih jauh dari Medan - Jakarta - Jombang Jawa Timur. Medan ketika aku pulang kampung dan melepas rindu dengan Mamak dan ziarah ke makam bapak. Jombang Jawa Timur, yaitu ketika pertama kali aku bepergian seorang diri untuk mengambil kursus Bahasa Ingris di Jawa Timur.

22 Mei 2014, berangkat dari rumah Bang Anto di Parung, pukul 8 tepat aku menaiki angkot 106 tujuan lebak bulus. Aku berniat ke Stasiun Kereta Kota. Aku akan menjelajah dunia, sebagian dunia. Aku akan ke Lombok, NTB dengan menggunakan jalur darat Tujuan ku ke Lombok adalah untuk menjadi Gunung Rinjani, tempat persemayaman Dewi Anjani. Sebuah gunung yang tersohor ke seluruh dunia. Menjadi salah satu mimpi para pendaki untuk bisa menggapainya. Wonderfull.

Tiba di Stasiun Kota, bersaamaan dengan kereta Gaya Baru Malam yang sudah mulai bergerak melaju. Aku dan Kiki, teman traveling ku kali ini berlari bersusah payah dengan cariel dan beberapa tentengan. Kami tidak jadi ketinggalan kereta, tapi teman traveling kami yang satu lagi, Dinda, terpaksa mencari tiket pesawat untuk keeokan harinya. Dia tiba di Stasiun Kota saat kereta Gaya Baru Malam sudah melaju dan tidak mungkin terkejar lagi.

Ini adalah kali empat aku naik kereta Gaya Baru Malam, 2 kali untuk tujuan jombang ketika mengikuti kursus Bahasa Ingris di Pare, 1 kali ketika traveling dengan teman kuliah ke Jogja. Pengalaman untuk ke empat kali ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya. sudah tidak ada lagi penumbang yang berdempet dempet di lorong jalan, tidak ada lagi penumbang yang  terpaksa duduk di wc, dan sudah tidak ada lagi pedagang yang menjajakan daganganya dari A-Z termasuk Bir. Dan sekarang Gaya Baru Malam sudah di pasang AC, sekalipun lebih tepatnya AC untuk pajangan, karena sama sekali tidak berasa.

Pukul 3 Pagi, kami sudah sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. suasana stasiun tidak terlalu ramai saat itu. Sesunggunya aku dan kiki hendak menggelar matras untuk alas tidur tepat di sebelah WC, tapi tak lama, Satpam meminta kami keluar dari arena stasiun, dan masuk kembali melalui loby,  begitu lah aturanya, sekalipun kami memiliki untuk jadwal keberangkatan berikutnya.

Saat itu loby stasiun belum dibuka. Aku dan Kiki terpaksa duduk manis didepan pintu lobi stasiun. Lobi stasiun baru dibuka sekitar pukul 4.30, kami pun masuk. Ketika hendak masuk ke ruang tunggu penumpang, petugas yang berjaga lagi lagi tidak mengijinkan kami untuk masuk dengan alasan, kereta kami selanjutnya masih pukul 1 siang, akhirnya kami tidur di depan loket penjualan tiket yang saat itu masih lenggang. Tertidur pulas. Aku terbangun sekitar pukul 8 pagi, melihat Kiki disebalahku yang juga tertidur dengan Jilbabnya yang sepenuhnya bergeser menutupi mukanya. Pemandangan lain yang luar biasa ketika bangun adalah deretan kaki kaki yang mengular, ya antrian di depan loket penjualan tiket kereta sudah sangat panjang. "Sudah berapa orang yang yang candid ngambil gambar gw tidur " ohh my..

tak lama Kemudian, Dinda yang akhirnya menggunakan pewasat tiba di Surabaya dan bertemu di Stasiun Gubeng untuk kemudian bersama sama menuju Banyuwangi menggunakan kereta  Sri Tanjung. Sesampainya di Banyuwangi, kami bertemu dan teman teman dari daerah lain yang akan bersama sama menemui Dewi Anjani. orang Pertama yang kami temui adalah Mba Liani, kemudian Flo'e, Anam dan 3 orang temanya dari Pekalongan, Om Mawardi dan Pak Didik dari Paiton serta, Amar dari Jakarta.