Namanya Jessica. Siswi pindahan disekolahku, waskito 4. Perlenalanku dengannya membawa kealaian yang berkepanjangan.
Diawal perteman kami dia mengajariku beberapa hal. Disela sela istirahat, dia mengajariku cara "berjalan" yang baik dan benar. Menurutnya, caraku berjalan kurang "laki", alhasil diawal kebersamaan ku, aku dan jessica sering berada di lorong depan kelas untuk latihan "berjalan".
Hari hari berikutnya, kelas menjadi penuh persaingan antara aku, galih, rosi, mustika ∂άn kompetitor baru, jessica.
Jessica juga lah wanita pertama yang menjadikanku mengenal rasa abstrak yang disebut cinta, cinta monyet. Setiap hari aku sudah menyiapkan secaril kertas, di mejanya di selipkan di bukunya. Puisi, aku menjadi pujangga, Nasip kertas kertas itu berakhir ditempat yang sama, tempat sampah didepan kelas.
Alai memang. Cinta, cinta monye sekalipun mampu membuat seseorang menjadi alai.
Aku memang tak pernah meminta jessica untuk menjadi pacar, ya waktu itu aku sama sekali tak mengerti. Aku hanya terus mencintai.
Jessica juga lah yang paling menentang ku ketika dia tahu aku sudah menjadi moslem, aku ingat hari hari setelah aku resmi menjadi muslim, jc setiap hari membawa alkitab seukuran saku, membacanya ketika istirahat, ketika guru tidak ada. Dia jelas mecari sesuatu.
Aku ∂άn Jesica akhirnya bertemu terakhir kali di cibodas. Waktu itu perpisahan sekolah. Kami terus berjalan bersama, ∂άn semenjak itu aku dilanda kerinduan yang berkepanjangan. Sampai hari ini Jessica masih spesial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar