Jumat, 17 Agustus 2012

Handuk Bapak II (sebuah cendramata perpisahan)

tulisan ini adalah sebuah tulisan lanjutan, dari http://jesuisunrveur.blogspot.com/2011/10/bendra-kramat-gthoh.html. aku tak pernah merencanakan akan membuat sebuah sekuel dari tulisan tersebut, tapi berbulan-bulan setelah entry blog benda keramat, cerita nya menjadi sangat berbeda. hari ini, aku rasa aku siap menelusuri ruang memori yang menyimpan kenangan setahun lalu, atau setahun setelah bapak memberikan handuk itu.

10 November 2011, Hari bangsa ini memperingati hari pahlawan, hari itu seharusnya hari yang sangat membahagiakan, ya memang membahagiakan awalnya, tapi lain cerita di ujungnya. Haduk kecil tersebut membawa melankoli yang sangat dalam. 10 November 2011, Aku akhirnya menerima sebuah sertifikat TOIEC International dengan score 802. Saat itu aku ingin menghubungi bapak, aku ingin bilang tidak sia-sia aku ke Pare dua kali untuk meningkatkan bahasa Ingrisku. 10 November 2011, sebuah perusahaan swasta asing akhirnya memberikan kabar prihal lamaranku, ya Aku diterima bekerja, pekerjaan pertamaku, saat aku masih kuliah di semester 7. Doa ku akhirnya terkabul juga, mendapatkan pekerjaan untuk mengurangi beban bapak setidaknya uang makan, pikirku. Hari itu aku ingin menghubungi bapak 'anak singuda'  sudah diterma kerja. Dan hari itu juga, 10 November 2011, sebuah sms dari kampung, dari kakak perempuan pertamaku. 'HER KALAU KAU SUDAH BACA SMS INI SEGERA PULANG KE KAMPUNG. BAPAK SAKIT KERAS'. Firasatku melayang jauh, bukan sekali bapak sakit, tapi baru kali ini aku disuruh pulang. Malam itu, aku hanya bisa menangis, ya menangis. ke esokan harinya, jam 3 pagi aku bergegas ke bandara, mengejar keberangkatan paling pagi ke Medan, menangis sepanjang jalan, dan handuk itu, handuk yang setahun lalu diberikan oleh bapakku, adalah penghapus air mataku. Sampai hari ini, ketika kutelusuri lagi ruang memori itu, ada penyesalan dalam dadaku, aku belum cukup mencintai bapakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar