Bang Leo, saudara jauh kami yang kaya raya, pundi pundi uangnya berasal dari ladang sawit yang luas di Pekan Baru, beberapa studio photo dijakarta dan solo. Dia akhirnya datang berkunjung ke kampung ku Kuta Pengkih. Ini adalah kali pertamanya berkungjung kesini, sebagai sebuah silaturahmi untuk mengeratkan kembali pertalian saudara yang sudah sangat jauh, sekaligus untuk melihat tanah yang sudah disepakati dengan bapak. Setelah berbincang bincang semalam suntuk, mulai dari silsilah keluarga, dari Laki (kakek) dan Biring(nenek) hingga kakek neneknya mereka, sehingga disimpulkanlah bahwa Bang Leo adalah abangku, dan bapakku adalah bapaknya. Begitulah adat karo, tak mengenal saudara sepupu, ponakan, semua harus diurut berdasarkan silsilah dan marga dan diambil simpulnya.
selain masalah silsilah, aku pun menjadi bahan perbincangan malam itu, kenapa aku tidak meneruskan sekolah, kenapa aku menjadi petani. Pada masa itu aku mungkin tak tahu harus menjawab apa, karena saat itu, aku setuju bahwa aku bukan memilih tapi aku tak punya pilihan.
Bang Leo kemudian menawarkan aku agar ikut bersamanya dijakarta, Melanjutkan Sekolah! Dunia menjadi bergairah lagi. Tentu saja aku sama sekali tak menolak tawaran itu. sekalipun aku sama sekali tak tahu seperti apa jakarta. keesokannya Bang Leo pulang ke Medan, dan memintaku untuk datang ke Medan, ke Jakarta.
Seminggu kemudian, bapak, ibu mengantarku kemedan, kerumah Bang Leo. Tapi bang Leo sudah kejakarta, dia menungguku di Jakarta. Tiket bus Medan jaya pun diambil dihari kedatangan kami untuk keberangkatan esok harinya, ke Jakarta. berangkat dari terminal Medan, sampai termial Kali Deres menggunakan transportasi darat memakan waktu 3 hari dua malam. melelahkan, tapi aku jauh lebih tertarik mengenal jakarta, dari pada mengeluhkan kelelahanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar