Minggu, 10 November 2013

The Farewell, Aku Dan Bapakku

17 Agustus 1948 - 10 November 2011 RIP Tampilen Ginting. Hari ini tepat 2 tahun kepergian bapakku kawan, pahlawanku. Yang hidup pasti akan mati, itu sebuah kepastian. Setiap pertemuan mengharuskan ada nya perpisahan, begitu kira kira kawan. Kali ini aku ingin mengingat dan menuliskan kembali tentang hari-, miggu, bulan, sebelum kepergian bapakku kawan.

July 2011, aku lupa tepatnya kawan, yang pasti itu menjelang bulan puasa, yang berbarengan dengan liburan kuliah di UPNVJ, aku ingat saat itu bapak telfon, memintaku untuk  pulang kampung. Tapi aku menolaknya, aku ingin ke Pare, Kediri untuk belajar bahasa ingris, dan bapakku tidak mempermasalahkannya. sebulan aku di Pare, kemudian balik ke Jakarta, setibanya di jakarta aku langsung beli tiket Medan Jaya, untuk keberangkatan esok harinya. 3 hari di jalan aku akhirnya sampai juga di Kuta Pengkih.

Aku punya waktu seminggu di kampung. Setiap hari aku menemani mamak dan bapak ke kebun. Tapi bapak tak lagi seperti dulu, dia lebih banyak diam ketimbang menceritakan ku tentang saudara kami yang di Batam, Perbesi, Kaban Jahe, Medan. Sepulang dari kebun Bapak lebih asik di kedai kopi ketimbang dirumah, Bapak hanya pulang untuk makan malam bersama seperti yang sudah keluarga kami lakukan bertahun tahun, dan bapak bergegas lagi ke kedai kopi selesai makan.

malam terakhirku di kampus, ku habiskan untuk mendengarkan wejangan wejangan mamak. tidak seperti mamakku yang punya nasihat dari a-z, bapakku hanya berujar satu kalimat yang terus ku ingat "jangan lupa nak, seperti apa hidup bapak dan mamakmu di kampung", ya itu saja. Esok paginya bapak mengantarku ke Bandara dan tak ada lagi nasehat di sepangjang jalan. 2 bulan kemudian, kamis, 10 November 2011, sebuah sms  masuk ke hp nokia hitam putihku, dari kakak iparku yang tinggal di kampung, 'HER KALO KAMU UDAH BACA SMS INI CEPET CARI TIKET PULANG, BAPAK SAKIT". begitulah kira kira kira aku dan bapakku farewell.

sebuah sesal, dari semua keinginanku meraih mimpi iini, aku telah tanpa sadar mengorbankan sesuatu yaitu kebersaamaan dengan lelaki yang tak pernah kenal lelah, membanting tulang, memastikan semua yang kubutuhkan tercukupi. Sebuah kesempatan yang dalam hidup yang ku lewatkan, yaitu mengenal bapakku. jujur kawan, setelah kepergiannya, aku sadar, aku belum cukup mengenalnya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar